Setiap kreator dan marketer pasti ingin membuat konten yang menarik perhatian sekaligus menghasilkan penjualan.
Namun di dunia digital yang penuh persaingan, muncul pertanyaan klasik:
“Haruskah saya membuat konten yang menghibur atau fokus pada konten yang mengonversi?”
Keduanya sama-sama penting, tapi memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda.
Konten yang menghibur mampu menarik perhatian audiens dan membangun kedekatan emosional.
Sementara konten yang mengonversi fokus pada mendorong tindakan — seperti klik tautan, isi formulir, atau membeli produk.
Masalahnya, banyak brand dan kreator terlalu berat ke salah satu sisi: terlalu fokus menghibur tanpa arah, atau terlalu menjual hingga kehilangan sentuhan manusiawi. Padahal, strategi terbaik justru adalah memadukan keduanya dengan cerdas.
Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan mendasar, kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis konten, serta bagaimana menemukan keseimbangan ideal antara konten yang menghibur dan konten yang mengonversi.
Apa Itu Konten yang Menghibur?
Konten yang menghibur adalah jenis konten yang dirancang untuk menarik perhatian dan membangun koneksi emosional dengan audiens.
Tujuan utamanya bukan langsung menjual, tetapi menarik perhatian, membangun kedekatan, dan meningkatkan engagement.
Contoh konten menghibur:
-
Video lucu atau relatable di TikTok dan Instagram.
-
Meme yang menyinggung isu sehari-hari.
-
Thread ringan di Twitter yang mengandung humor atau inspirasi.
-
Storytelling personal yang membuat orang tersenyum atau terharu.
Tujuan utama: membuat orang menyukai brand kamu dulu, sebelum mereka siap membeli.
Kelebihan konten menghibur:
-
Mudah viral karena emosional dan ringan dikonsumsi.
-
Membangun hubungan jangka panjang dengan audiens.
-
Membuat brand terasa lebih manusiawi dan dekat.
Kekurangannya:
-
Sulit diukur dampak langsung terhadap penjualan.
-
Bisa membuat audiens hanya “menikmati” tanpa mengambil tindakan.
-
Jika terlalu sering, bisa membuat brand kehilangan arah tujuan bisnis.
Apa Itu Konten yang Mengonversi?
Berbeda dengan yang menghibur, konten yang mengonversi berfokus pada hasil nyata: mendorong audiens melakukan tindakan spesifik seperti membeli produk, mendaftar newsletter, atau mengunduh e-book.
Jenis konten ini biasanya lebih strategis, dengan pesan yang kuat dan ajakan bertindak (CTA) yang jelas.
Contoh konten yang mengonversi:
-
Postingan promosi dengan diskon terbatas.
-
Testimoni pelanggan atau before-after.
-
Artikel blog yang diakhiri dengan tombol “Beli Sekarang”.
-
Email marketing dengan CTA yang jelas.
-
Landing page dengan penawaran spesifik.
Tujuan utama: mengubah audiens menjadi pelanggan atau prospek potensial.
Kelebihan konten yang mengonversi:
-
Hasilnya terukur (klik, penjualan, leads).
-
Meningkatkan ROI (Return on Investment).
-
Mempercepat perjalanan konsumen dari “tahu” menjadi “beli”.
Kekurangannya:
-
Jika terlalu sering digunakan, audiens bisa merasa “dijual terus”.
-
Kurang menarik jika tidak dikemas dengan storytelling.
-
Bisa mengurangi engagement jika terasa kaku dan promosi berlebihan.
Konten Menghibur vs Konten Mengonversi — Mana yang Lebih Efektif?
Pertanyaan ini sebenarnya tidak memiliki jawaban mutlak, karena efektivitas tergantung pada tujuan dan tahap audiens dalam funnel marketing.
Mari kita lihat perbandingannya:
| Aspek | Konten Menghibur | Konten Mengonversi |
|---|---|---|
| Tujuan utama | Meningkatkan awareness dan engagement | Meningkatkan penjualan dan konversi |
| Gaya komunikasi | Emosional, ringan, dan fun | Persuasif dan berorientasi hasil |
| Kelebihan utama | Meningkatkan kedekatan dengan audiens | Meningkatkan ROI dan profit |
| Risiko utama | Tidak menghasilkan konversi langsung | Terlalu kaku dan kehilangan empati |
| Contoh format | Meme, reels, storytelling, humor | Landing page, CTA, promo produk |
Keduanya saling melengkapi. Konten menghibur membangun interest dan trust, sedangkan konten yang mengonversi menutup transaksi. Tanpa hiburan, konten bisa membosankan. Tapi tanpa konversi, semua usaha menjadi sia-sia.
Kapan Menggunakan Konten yang Menghibur dan Kapan yang Mengonversi?
Untuk hasil maksimal, kamu perlu tahu kapan waktu yang tepat menggunakan masing-masing jenis konten.
Gunakan konten yang menghibur saat:
-
Kamu ingin menarik audiens baru.
-
Engagement sedang menurun.
-
Brand kamu butuh awareness dan interaksi.
-
Kamu ingin membangun personal connection dengan followers.
Gunakan konten yang mengonversi saat:
-
Kamu sudah punya audiens yang cukup engaged.
-
Sedang ada promo, peluncuran produk, atau event.
-
Kamu ingin mengukur hasil kampanye dengan jelas.
-
Tujuanmu adalah meningkatkan leads atau penjualan.
Tips:
Gunakan prinsip “80/20” — 80% konten untuk menghibur, mengedukasi, dan membangun kepercayaan; 20% untuk menjual atau mendorong konversi.
Dengan cara ini, audiens tidak akan merasa “dijual terus”, tapi tetap sadar bahwa brand kamu punya produk atau layanan yang bisa membantu mereka.
Strategi Menggabungkan Keduanya untuk Hasil Maksimal
Kuncinya bukan memilih salah satu, tapi menggabungkan keduanya secara seimbang agar saling mendukung.
Berikut beberapa strategi praktis:
a. Gunakan Konten Menghibur Sebagai Pintu Masuk
Mulailah dengan konten yang ringan, lucu, atau relatable untuk menarik perhatian audiens baru.
Contohnya:
-
Meme tentang masalah sehari-hari yang relevan dengan produkmu.
-
Video singkat yang menghibur tapi menyinggung solusi produk.
Contoh nyata:
Sebuah brand skincare membuat video lucu tentang “perjuangan jerawat” lalu menutupnya dengan tips penggunaan produknya.
Audiens terhibur, tapi tetap mendapat nilai jual di akhir.
b. Sisipkan Unsur Storytelling dalam Konten yang Mengonversi
Konten promosi tidak harus terasa seperti iklan.
Gunakan cerita nyata pelanggan atau perjalanan pribadi untuk menambah sentuhan emosional.
Misalnya:
Alih-alih menulis, “Diskon 50% untuk sepatu lari kami!”, ubah jadi,
“Dulu saya malas olahraga karena kaki cepat pegal. Setelah pakai sepatu ini, saya malah ketagihan jogging tiap pagi.”
Cerita seperti ini lebih mempengaruhi keputusan audiens karena terasa jujur dan dekat dengan kehidupan mereka.
c. Bangun Alur Funnel dari Awareness ke Action
Bayangkan funnel marketing seperti perjalanan:
-
Awareness: tarik perhatian lewat konten menghibur.
-
Interest: berikan edukasi ringan dan solusi.
-
Desire: tampilkan testimoni, review, atau hasil nyata.
-
Action: arahkan ke CTA (beli, daftar, klik tautan).
Setiap tahap membutuhkan jenis konten berbeda, tapi semua tetap konsisten dalam gaya dan nilai brand.
Contoh Kombinasi Sukses di Dunia Nyata
-
Tokopedia: sering memadukan konten menghibur (parodi dan meme di media sosial) dengan CTA halus ke aplikasi mereka.
-
Nike: memakai storytelling emosional (“Just Do It”) yang menginspirasi sekaligus mengonversi melalui nilai motivasi.
-
Traveloka: membuat video lucu tentang liburan gagal, lalu menutupnya dengan ajakan pakai aplikasinya untuk pengalaman lebih baik.
Mereka berhasil karena memahami satu hal: hiburan menarik perhatian, konversi menciptakan tindakan.
Kesimpulan
Jadi, mana yang lebih efektif — konten yang menghibur atau konten yang mengonversi?
Jawabannya: keduanya sama-sama penting, tapi harus digunakan dengan strategi yang tepat.
Konten yang menghibur adalah jembatan emosional antara brand dan audiens.
Konten yang mengonversi adalah jalan menuju tujuan bisnis.
Tanpa hiburan, kamu kehilangan perhatian.
Tanpa konversi, kamu kehilangan hasil.
Strategi terbaik adalah menghibur untuk menarik, mengonversi untuk menutup.
Gunakan konten menghibur untuk membangun koneksi, lalu arahkan audiens ke konten konversi agar mereka melakukan tindakan nyata.
Dengan keseimbangan yang tepat, brand kamu bukan hanya dikenal — tapi juga diingat dan menghasilkan.

