Konten Relatable: Kunci Menyentuh Hati Audiens di Era Digital
Konten Relatable: Kunci Menyentuh Hati Audiens di Era Digital

Konten Relatable: Kunci Menyentuh Hati Audiens di Era Digital

copywriting yang rapi. Yang paling berpengaruh kini adalah konten relatable — konten yang membuat audiens merasa, “Ini banget gue!” atau “Aku pernah ngalamin ini!”. Konten seperti inilah yang bisa menembus algoritma, mengalahkan iklan, bahkan membangun hubungan emosional jangka panjang antara kreator dan audiens. Namun, membuat konten yang benar-benar relatable tidak semudah menambahkan kalimat motivasi atau candaan ringan. Ia membutuhkan empati, pemahaman mendalam terhadap audiens, dan kemampuan bercerita yang otentik.

Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu konten relatable, mengapa penting di era digital, serta strategi praktis untuk menciptakannya agar audiens merasa dekat dan terhubung dengan brand atau persona kamu.

Apa Itu Konten Relatable?

Secara sederhana, konten relatable adalah konten yang mampu mencerminkan pengalaman, perasaan, atau nilai yang dimiliki oleh audiensmu.
Bisa berupa pengalaman sehari-hari, perjuangan hidup, atau bahkan momen kecil yang sering diabaikan tapi ternyata dirasakan banyak orang.

Contohnya:

  • Meme tentang lembur dan kerja dari rumah.

  • Cerita ringan soal perjuangan menabung di tengah tanggal tua.

  • Video tentang kegelisahan anak muda mencari passion.

Konten seperti itu membuat audiens merasa terlihat dan dimengerti. Dalam psikologi komunikasi, ini disebut emotional mirroring, di mana seseorang merasa terhubung karena pengalaman yang serupa.

Mengapa Konten Relatable Sangat Penting di Era Digital?

  1. Membangun Kedekatan Emosional
    Audiens kini lebih menyukai brand atau kreator yang “manusiawi”. Dengan konten relatable, kamu tidak hanya menjual produk atau ide, tapi juga menghadirkan rasa kebersamaan.

  2. Meningkatkan Engagement Secara Organik
    Konten yang relatable cenderung memancing komentar, share, dan reaksi emosional tanpa perlu iklan besar-besaran. Orang senang membagikan hal yang mereka rasakan juga.

  3. Memperkuat Brand Personality
    Brand atau kreator yang berani tampil jujur dan apa adanya akan lebih mudah diingat. Relatability membuatmu tampak autentik, bukan hanya sekadar “jualan”.

  4. Mengalahkan Kebisingan Algoritma
    Platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) kini memprioritaskan interaksi. Semakin banyak orang merasa terhubung dengan kontenmu, semakin besar peluangnya muncul di beranda banyak orang.

Ciri-Ciri Konten yang Relatable

  1. Mengandung Emosi Sehari-hari
    Misalnya rasa bangga, sedih, kecewa, takut gagal, atau bahagia sederhana.
    Emosi ini universal — semua orang pernah merasakannya.

  2. Tidak Terlalu “Sempurna”
    Justru ketidaksempurnaanlah yang membuatnya terasa nyata. Audiens lebih percaya pada cerita yang jujur daripada pencitraan berlebihan.

  3. Mengandung Cerita Pribadi atau Situasi Nyata
    Cerita membuat audiens terlibat emosional. Misalnya, “Waktu pertama kali gagal presentasi di depan klien…” lebih kuat daripada “Gagal itu hal biasa.”

  4. Menggunakan Bahasa yang Dekat dengan Audiens
    Gunakan tone percakapan, hindari jargon yang terlalu teknis kecuali memang audiensmu berasal dari kalangan profesional tertentu.

Cara Membuat Konten Relatable

1. Kenali Audiens dengan Mendalam

Gunakan data dan observasi sosial untuk memahami apa yang mereka alami.
Pertanyaan yang bisa kamu tanyakan:

  • Apa masalah terbesar mereka saat ini?

  • Nilai apa yang mereka junjung tinggi?

  • Apa yang mereka anggap lucu, sedih, atau menyentuh?

Dari sini, kamu bisa menemukan pola emosi yang bisa dijadikan bahan konten.

2. Ceritakan Pengalaman Nyata

Cerita pribadi yang jujur jauh lebih kuat daripada teori.
Misalnya, “Aku pernah merasa kehilangan arah saat pandemi, sampai akhirnya belajar lagi dari nol…”
Cerita seperti ini membuat audiens merasa bahwa kamu manusia juga.

3. Gunakan Humor dan Kesederhanaan

Sedikit humor ringan bisa membuat konten lebih mudah diterima. Tapi ingat, jangan berlebihan atau menyinggung pihak lain.
Relatable humor biasanya datang dari kesalahan kecil, kebiasaan sehari-hari, atau realita sosial yang lucu tapi benar adanya.

4. Visual dan Tone yang Otentik

Gunakan foto, video, atau desain yang alami.
Tidak perlu terlalu “studio look” — kadang ekspresi spontan jauh lebih kuat daripada pose yang terlalu rapi.

5. Ajak Audiens Berpartisipasi

Tambahkan ajakan seperti:

  • “Kamu pernah ngalamin hal serupa gak?”

  • “Kalau kamu, bakal pilih yang mana?”

  • “Tag temanmu yang pasti ngerti maksud postingan ini!”

Interaksi seperti ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan memperkuat koneksi emosional.

Contoh Ide Konten Relatable

  • “Hal-hal kecil yang bikin mood kerja langsung naik.”

  • “Ketika kamu bilang ‘oke’ tapi sebenarnya kesel.”

  • “Drama kecil saat kerja tim yang cuma kamu yang ngerti.”

  • “Kenapa kita sering overthinking padahal udah semuanya baik-baik aja.”

Kunci dari semua ini: jujur dan tulus. Jangan buat konten relatable hanya untuk viral. Audiens bisa merasakan mana yang benar-benar otentik dan mana yang dibuat-buat.

Kesimpulan

Di era digital yang penuh distraksi, konten relatable adalah jembatan antara kreator dan audiens.
Ia tidak sekadar menarik perhatian, tapi menumbuhkan koneksi emosional yang membuat orang mau bertahan, mengikuti, dan bahkan menjadi bagian dari komunitasmu.

Jadi, sebelum kamu membuat konten berikutnya, coba tanya dirimu:

“Apakah ini sesuatu yang akan dirasakan juga oleh audiensku?”

Jika jawabannya “ya”, maka kamu sedang berada di jalur yang benar — jalur untuk membangun koneksi yang lebih dalam, bukan sekadar interaksi di layar.