5 Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Anak Muda
5 Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Anak Muda

5 Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Anak Muda

Di era digital yang serba cepat ini, anak muda punya banyak peluang untuk berkembang, baik dalam karier maupun keuangan. Sayangnya, kemudahan akses informasi dan gaya hidup konsumtif sering kali membuat banyak orang muda terjebak dalam kesalahan finansial yang bisa berakibat jangka panjang. Mulai dari kebiasaan belanja impulsif, mengabaikan tabungan, hingga tidak memikirkan investasi, semua ini bisa menghambat kebebasan finansial di masa depan. Dalam artikel ini, kita akan membahas 5 kesalahan finansial yang sering dilakukan anak muda dan bagaimana cara menghindarinya agar kamu bisa mulai membangun masa depan finansial yang lebih cerdas dan stabil.

Hidup dari Gaji ke Gaji Tanpa Menyisihkan Tabungan

Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan anak muda adalah tidak memiliki kebiasaan menabung. Banyak yang berpikir “nanti aja kalau gajinya lebih besar,” padahal kunci utama dari kestabilan keuangan adalah disiplin sejak dini, bukan besarnya penghasilan.

Kebiasaan hidup dari gaji ke gaji membuat kamu tidak punya dana darurat ketika terjadi hal tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau kebutuhan mendadak lainnya.

Solusi:
Gunakan prinsip “bayar diri sendiri dulu”. Sisihkan minimal 10–20% dari pendapatanmu segera setelah menerima gaji, sebelum digunakan untuk kebutuhan lain. Simpan dalam rekening terpisah agar tidak mudah tergoda untuk digunakan.

Terlalu Konsumtif demi Gaya Hidup Sosial Media

Media sosial sering kali memicu keinginan untuk selalu tampil “wow”. Banyak anak muda terjebak dalam lifestyle inflation, yaitu gaya hidup yang meningkat seiring naiknya pendapatan. Akibatnya, gaji habis hanya untuk nongkrong, liburan, atau membeli barang-barang branded demi konten Instagram.

Masalahnya, kepuasan dari konsumsi seperti ini bersifat sementara. Namun, dampak finansialnya bisa jangka panjang — terutama jika kamu sampai berutang untuk membiayai gaya hidup tersebut.

Solusi:
Coba terapkan konsep mindful spending, yaitu belanja dengan kesadaran penuh. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan:

“Apakah aku benar-benar butuh ini, atau hanya ingin terlihat keren di media sosial?”

Dengan begitu, kamu bisa lebih bijak mengatur keuangan tanpa kehilangan kebahagiaan.

Mengabaikan Dana Darurat

Banyak anak muda berpikir dana darurat tidak penting, padahal inilah yang bisa menyelamatkan finansialmu dari situasi sulit.
Dana darurat berfungsi sebagai pelindung saat terjadi hal tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, kecelakaan, atau kondisi kesehatan yang memerlukan biaya besar.

Idealnya, dana darurat minimal mencakup 3–6 kali pengeluaran bulanan.

Solusi:
Mulailah membangun dana darurat sedikit demi sedikit. Simpan di rekening terpisah yang mudah diakses, seperti tabungan biasa atau e-wallet dengan bunga harian. Konsistensi lebih penting daripada jumlah awalnya.

Tidak Memikirkan Investasi Sejak Dini

Banyak anak muda berpikir investasi itu rumit atau hanya untuk orang kaya. Padahal, justru semakin muda kamu mulai, semakin besar potensi keuntungannya karena efek compound interest (bunga berbunga).

Menunda investasi berarti kamu kehilangan waktu emas untuk pertumbuhan asetmu.

Solusi:
Pelajari dasar-dasar investasi seperti reksa dana, saham, atau emas digital. Pilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan finansialmu.
Kamu bisa memulai dari jumlah kecil, misalnya Rp100.000 per bulan, yang bisa tumbuh besar dalam jangka panjang.

“Investasi terbaik adalah waktu yang kamu gunakan untuk belajar dan mulai lebih awal.”

Mengabaikan Edukasi Finansial dan Perencanaan Masa Depan

Kesalahan terakhir — dan mungkin paling fatal — adalah tidak mau belajar tentang keuangan pribadi. Banyak anak muda yang tidak tahu ke mana uang mereka pergi setiap bulan atau bagaimana cara mengelola pengeluaran.

Padahal, di era digital ini, informasi tentang finansial sangat mudah diakses: ada buku, video edukasi, hingga aplikasi pencatat keuangan gratis.

Solusi:
Mulailah dengan mencatat pengeluaran dan membuat anggaran bulanan.
Selain itu, tetapkan tujuan finansial seperti:

  • Menabung untuk rumah atau kendaraan

  • Membangun dana pensiun

  • Mencapai kebebasan finansial di usia muda

Dengan memiliki rencana, kamu tidak akan sekadar bekerja untuk uang, tapi membangun kehidupan finansial yang kamu inginkan.

Kesimpulan

Menjadi anak muda di era digital memang penuh tantangan — terutama dalam hal finansial. Godaan konsumsi, tren gaya hidup, dan tekanan sosial media sering kali membuat kita lupa pada prioritas keuangan jangka panjang.

Namun, dengan kesadaran dan kebiasaan sederhana seperti menabung, membangun dana darurat, serta mulai berinvestasi sejak dini, kamu bisa menghindari kesalahan finansial yang sering dilakukan anak muda.

Ingat, keuangan yang sehat bukan soal seberapa besar penghasilanmu, tapi seberapa baik kamu mengelolanya. Mulailah sekarang — masa depanmu akan berterima kasih.