Budaya Cancel dan Dampaknya terhadap Kebebasan di Internet
Budaya Cancel dan Dampaknya terhadap Kebebasan di Internet

Budaya Cancel dan Dampaknya terhadap Kebebasan di Internet

Di era digital yang serba cepat ini, reputasi seseorang bisa berubah hanya dalam hitungan jam. Satu tweet lama, satu komentar yang dianggap menyinggung, atau satu tindakan yang viral bisa membuat seseorang kehilangan pekerjaan, kontrak kerja sama, bahkan dukungan publik. Fenomena ini dikenal sebagai “budaya cancel” atau cancel culture — sebuah tren sosial di mana individu, merek, atau figur publik “dibatalkan” karena dianggap melakukan kesalahan moral atau sosial. Namun, di balik semangat keadilan sosial yang sering mendasari budaya ini, muncul pertanyaan besar: apakah budaya cancel justru mengancam kebebasan berekspresi di internet? Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang makna budaya cancel, bagaimana ia terbentuk, dampaknya terhadap masyarakat digital, serta bagaimana seharusnya kita menyikapinya secara bijak.

Apa Itu Budaya Cancel?

Budaya cancel (cancel culture) adalah fenomena sosial di mana seseorang atau kelompok mengalami penolakan massal dari masyarakat online akibat tindakan, ucapan, atau pandangan yang dianggap salah atau menyinggung nilai moral.

Biasanya, budaya ini bermula di media sosial — seperti Twitter (X), Instagram, atau TikTok — di mana netizen ramai-ramai menyerang, memboikot, atau menghentikan dukungan terhadap individu atau merek tertentu.

Contohnya:

  • Seorang selebritas memposting komentar yang dianggap rasis → publik ramai-ramai menyerang dan berhenti mengikuti akun tersebut.

  • Sebuah brand mengeluarkan iklan yang dinilai seksis → konsumen mengajak boikot produknya.

  • Influencer ketahuan berperilaku tidak sesuai citra → netizen menuntut permintaan maaf publik dan sanksi sosial.

Awalnya, budaya cancel muncul sebagai bentuk tanggung jawab sosial untuk melawan diskriminasi, pelecehan, atau penyalahgunaan kekuasaan. Namun, dalam perkembangannya, budaya ini sering kali berubah menjadi penghakiman massal tanpa ruang untuk klarifikasi atau perbaikan.

Asal Mula Budaya Cancel

Istilah “cancel culture” mulai populer di Amerika Serikat sekitar tahun 2015–2017, terutama di kalangan aktivis media sosial. Gagasannya berakar pada semangat accountability — bahwa setiap orang, terutama figur publik, harus bertanggung jawab atas kata dan tindakannya.

Namun, seiring dengan meningkatnya kekuatan media sosial, budaya ini menjadi senjata sosial yang bisa digunakan siapa saja. Dengan satu unggahan viral, seseorang bisa “dihapus” dari ruang publik digital. Ini membuat budaya cancel berkembang menjadi fenomena global, termasuk di Indonesia.

Dampak Positif Budaya Cancel

Meski banyak dikritik, budaya cancel tidak sepenuhnya buruk. Dalam konteks tertentu, fenomena ini memiliki fungsi sosial yang penting, antara lain:

  1. Menegakkan Akuntabilitas Publik
    Banyak kasus pelecehan atau ketidakadilan yang terbongkar karena tekanan publik di media sosial. Budaya cancel mendorong figur publik dan perusahaan agar lebih berhati-hati dan transparan.

  2. Memberikan Suara bagi yang Tak Didengar
    Sebelum era digital, masyarakat kecil sulit menyuarakan ketidakadilan. Kini, lewat media sosial, suara mereka bisa mengguncang opini publik.

  3. Mengubah Norma Sosial ke Arah Lebih Baik
    Budaya cancel sering mendorong kesadaran baru tentang isu-isu sosial seperti rasisme, seksisme, atau privilege. Banyak brand yang akhirnya belajar untuk lebih inklusif dan sensitif.

Dampak Negatif Budaya Cancel

Namun di sisi lain, budaya cancel juga membawa sejumlah konsekuensi serius terhadap kebebasan berekspresi dan iklim komunikasi digital.

1. Menghambat Kebebasan Berekspresi

Banyak orang kini takut berbicara jujur karena khawatir “salah ngomong” bisa membuat mereka diserang. Akibatnya, diskusi di internet menjadi tidak sehat dan penuh ketegangan.

2. Menghapus Ruang untuk Belajar dan Memperbaiki Diri

Tidak semua kesalahan harus dihukum selamanya. Seseorang seharusnya diberi kesempatan untuk meminta maaf dan belajar. Namun budaya cancel sering menutup pintu maaf dan mematikan peluang perbaikan.

3. Menjadi Penghakiman Massal Tanpa Konteks

Internet sering menyebarkan potongan informasi tanpa latar belakang lengkap. Akibatnya, seseorang bisa “dihukum” karena salah tafsir atau berita yang belum terverifikasi.

4. Menimbulkan Ketakutan Kolektif (Fear Culture)

Fenomena ini menciptakan rasa takut di masyarakat digital. Banyak kreator, influencer, dan publik figur memilih diam, menghindari topik sensitif, dan akhirnya menghambat keberagaman opini.

5. Mendorong Polarisasi Sosial

Alih-alih mendorong dialog, budaya cancel sering memperlebar jurang antara kelompok pro dan kontra. Akibatnya, internet menjadi tempat yang penuh konflik, bukan kolaborasi.

Cancel Culture vs. Call-Out Culture

Sering kali, istilah cancel culture disamakan dengan call-out culture, padahal keduanya berbeda.

  • Call-out culture adalah tindakan menegur atau mengkritik kesalahan seseorang dengan tujuan edukatif dan membuka diskusi.

  • Cancel culture lebih bersifat menghukum dan menolak individu tersebut sepenuhnya dari ruang publik.

Perbedaan utamanya terletak pada niat dan tindak lanjutnya. Call-out membuka ruang refleksi, sedangkan cancel menutup peluang perbaikan. Dalam konteks masyarakat yang sehat, budaya “call-out” lebih ideal daripada “cancel.”

Studi Kasus: Cancel Culture di Indonesia

Di Indonesia, beberapa figur publik, artis, hingga influencer juga pernah menjadi korban budaya cancel. Misalnya, karena komentar politik, candaan sensitif, atau perilaku masa lalu yang viral kembali.

Menariknya, budaya cancel di Indonesia sering bercampur dengan emosi kolektif dan nilai moral masyarakat, sehingga cepat menyebar dan sulit dikendalikan. Namun, seiring waktu, sebagian orang mulai sadar bahwa tindakan cancel berlebihan bisa berdampak buruk pada mental seseorang dan ekosistem digital secara keseluruhan.

Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Budaya Cancel?

1. Bedakan antara Kritik dan Serangan

Kritik membangun adalah bagian penting dari kebebasan berekspresi. Namun, serangan personal hanya memperburuk keadaan. Fokuslah pada tindakan, bukan pada orangnya.

2. Cari Informasi Lengkap Sebelum Menghakimi

Jangan mudah ikut arus opini publik tanpa memverifikasi fakta. Banyak kasus “cancel” ternyata didasari potongan informasi yang menyesatkan.

3. Berikan Ruang untuk Klarifikasi dan Pertobatan

Semua orang bisa salah. Memberi kesempatan untuk memperbaiki diri jauh lebih manusiawi daripada menghapus seseorang sepenuhnya.

4. Gunakan Media Sosial untuk Dialog, Bukan Penghakiman

Jika kita ingin menciptakan dunia digital yang sehat, gunakan ruang online untuk berdiskusi, bukan menghukum.

5. Bangun Empati Digital

Di balik setiap akun, ada manusia dengan kehidupan, perasaan, dan konteks yang tidak selalu kita pahami.

Kesimpulan

Budaya cancel adalah cerminan dari kekuatan masyarakat digital dalam menuntut akuntabilitas. Namun, ketika digunakan tanpa empati dan konteks, budaya ini bisa berubah menjadi alat penghancur reputasi dan pembunuh kebebasan berekspresi.

Internet seharusnya menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi, bukan untuk menghapus. Maka, yang dibutuhkan bukan “cancel culture”, tetapi “culture of accountability with empathy” — budaya tanggung jawab yang disertai dengan rasa kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, kebebasan digital tidak akan berarti apa-apa jika kita sendiri tidak bisa menjaga etika dan empati dalam menggunakannya.