Di era digital seperti sekarang, mengelola keuangan menjadi tantangan tersendiri. Hanya dengan satu klik, kita bisa membeli barang apa pun tanpa harus keluar rumah. Kemudahan ini tentu menguntungkan, tetapi juga membawa risiko: pengeluaran yang tidak terkendali. Banyak orang merasa uangnya cepat habis padahal gaji baru saja masuk. Akar masalahnya sering kali bukan karena penghasilan kurang, melainkan karena tidak tahu bagaimana menentukan prioritas pengeluaran dengan bijak. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara detail bagaimana cara menentukan prioritas pengeluaran di era digital, agar kamu bisa tetap menikmati kemudahan teknologi tanpa terjebak dalam gaya hidup konsumtif.
Pahami Arus Keuangan Pribadi
Langkah pertama dalam menentukan prioritas pengeluaran adalah memahami arus keuangan pribadi. Banyak orang tidak tahu kemana uang mereka pergi setiap bulan karena tidak mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan jelas.
Solusinya:
-
Catat semua sumber pemasukan (gaji, bonus, freelance, dan lainnya).
-
Catat juga semua pengeluaran, sekecil apa pun itu.
-
Gunakan aplikasi keuangan digital seperti Money Manager, Spendee, atau DompetKu untuk mempermudah pencatatan.
Dengan begitu, kamu bisa melihat pola pengeluaranmu — apakah lebih banyak digunakan untuk kebutuhan pokok, hiburan, atau sekadar impulsif membeli barang yang tidak penting.
Terapkan Prinsip 50/30/20
Prinsip ini menjadi panduan populer dalam manajemen keuangan pribadi. Rumusnya sederhana:
-
50% untuk kebutuhan pokok, seperti makanan, transportasi, tempat tinggal, dan tagihan.
-
30% untuk keinginan, seperti hiburan, nongkrong, atau belanja.
-
20% untuk tabungan dan investasi, seperti dana darurat atau reksa dana.
Dengan prinsip ini, kamu bisa menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan hidup, menikmati hasil kerja, dan menyiapkan masa depan. Jika kamu merasa sulit menabung, coba langsung potong 20% gaji saat baru masuk — anggap itu “pengeluaran wajib,” bukan sisa.
Bedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan
Salah satu penyebab utama keuangan bocor adalah tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Di era digital, algoritma media sosial dan iklan online dirancang untuk menggoda kita agar terus membeli sesuatu yang “seolah-olah dibutuhkan.”
Cara mengatasinya:
-
Sebelum membeli, tanya diri sendiri: Apakah ini benar-benar perlu?
-
Gunakan aturan “tunda 24 jam” sebelum membeli barang non-esensial. Jika setelah satu hari kamu masih merasa butuh, baru pertimbangkan untuk membeli.
-
Fokus pada barang yang memberikan manfaat jangka panjang, bukan hanya kepuasan sesaat.
Dengan berpikir lebih rasional, kamu bisa menekan pengeluaran impulsif dan mengarahkan uang ke hal yang lebih penting.
Gunakan Teknologi untuk Menghemat, Bukan Boros
Ironisnya, banyak orang justru boros karena teknologi — terlalu sering belanja online, langganan aplikasi yang tidak digunakan, atau tergoda promo “flash sale”. Padahal, teknologi juga bisa membantu kamu menghemat.
Beberapa tipsnya:
-
Gunakan aplikasi price tracker untuk memantau harga sebelum membeli.
-
Manfaatkan promo atau cashback hanya untuk kebutuhan pokok.
-
Unsubscribe layanan digital yang tidak kamu gunakan, seperti aplikasi streaming yang jarang dibuka.
-
Gunakan e-wallet secara bijak — aktifkan notifikasi setiap transaksi agar kamu sadar berapa banyak yang sudah dikeluarkan.
Dengan cara ini, teknologi bisa menjadi alat pengendali keuangan, bukan sumber kebocoran dompet.
Siapkan Dana Darurat dan Tabungan
Banyak orang terlalu fokus pada pengeluaran harian hingga lupa menyiapkan dana darurat. Padahal, kebutuhan mendadak seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau perbaikan rumah bisa terjadi kapan saja.
Idealnya, dana darurat setidaknya sebesar 3–6 kali pengeluaran bulananmu.
Selain itu, biasakan juga memiliki tabungan khusus untuk tujuan tertentu, seperti:
-
Pendidikan
-
Liburan
-
Pembelian aset
Pisahkan rekening tabungan dan rekening harian agar uangmu tidak tercampur. Dengan begitu, kamu bisa lebih disiplin dalam mengatur keuangan.
Evaluasi Pengeluaran Secara Berkala
Menentukan prioritas pengeluaran bukan pekerjaan sekali jadi. Kamu perlu mengevaluasi kondisi keuangan secara berkala, misalnya setiap akhir bulan.
Cek apakah pengeluaranmu sejalan dengan rencana keuangan. Jika ternyata terlalu banyak keluar untuk hal-hal tidak penting, segera koreksi dan perbaiki bulan berikutnya.
Kamu bisa membuat laporan keuangan pribadi sederhana:
-
Pendapatan bulan ini
-
Total pengeluaran
-
Persentase tabungan
-
Pengeluaran tidak perlu yang bisa dipangkas
Dengan melakukan evaluasi rutin, kamu bisa melihat progres dan memperbaiki pola belanja sebelum terlambat.
Buat Skala Prioritas Keuangan
Setiap orang memiliki kebutuhan berbeda, tetapi prinsipnya sama: buat urutan prioritas berdasarkan kepentingan dan urgensi. Misalnya:
-
Kebutuhan dasar: makan, tempat tinggal, transportasi
-
Tagihan wajib: listrik, air, internet
-
Tabungan dan investasi: dana darurat, asuransi, reksa dana
-
Kebutuhan sosial: hadiah, sumbangan
-
Hiburan atau gaya hidup: nongkrong, traveling, gadget baru
Dengan urutan yang jelas, kamu bisa tahu mana yang harus dibayar duluan dan mana yang bisa ditunda tanpa mengganggu kestabilan finansial.
Hindari Godaan “Buy Now, Pay Later”
Layanan pay later memang memudahkan transaksi, tapi jika digunakan tanpa perhitungan, bisa menjadi bumerang. Banyak orang akhirnya terjebak cicilan menumpuk dan bunga tinggi hanya karena membeli hal yang tidak mendesak.
Solusi bijak:
Gunakan pay later hanya jika:
-
Barang yang dibeli adalah kebutuhan penting (bukan keinginan sesaat).
-
Kamu sudah menyiapkan dana untuk membayarnya bulan depan.
-
Cicilannya tidak melebihi 30% dari total penghasilan bulananmu.
Bijak dalam menggunakan fasilitas keuangan digital adalah kunci agar kamu tetap bebas tanpa kehilangan kendali atas keuanganmu.
Edukasi Diri tentang Keuangan Digital
Era digital menuntut kita untuk melek finansial dan teknologi. Banyak informasi keuangan bertebaran di internet, tapi tidak semuanya akurat.
Ikuti sumber yang kredibel seperti podcast finansial, channel edukasi keuangan di YouTube, atau buku tentang pengelolaan uang modern. Dengan terus belajar, kamu bisa lebih bijak dalam membuat keputusan keuangan dan memahami risiko dari setiap transaksi digital.
Kesimpulan
Menentukan prioritas pengeluaran di era digital bukan sekadar menahan diri dari belanja online, tapi tentang mengelola uang dengan sadar dan terarah. Dengan memahami arus keuangan, menerapkan prinsip 50/30/20, dan memanfaatkan teknologi secara bijak, kamu bisa menjaga stabilitas keuangan meski hidup di tengah godaan digital.
Ingat, uang bukan hanya untuk dibelanjakan, tapi juga untuk memberi keamanan dan kebebasan finansial di masa depan. Jadi, mulai hari ini, atur prioritas pengeluaranmu dengan bijak — bukan hanya agar dompet aman, tapi juga agar hidup terasa lebih tenang dan seimbang.

